Tampilkan postingan dengan label Clover. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Clover. Tampilkan semua postingan

4 Leaf Clover - Cyber Summoner

November 4th, 2014
16.19 P.M
Admin, Log in

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waduh, mimin lupa curhat nih kali ini..... Siapa yang harus disalahkan ini???? (Reader : Salah lu sendiri toh min!!! ; Admin : *Tewas, lalu bangkit lagi...*)
Oke, Mimin nggak akan curhat deh, langsung aja cekidot~

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  Four Leaf Clover - Cyber Summoner

            Pagi itu adalah pagi yang biasa. Penuh dengan kesibukan khas yang entah bertumpuk menjadi satu. Pada pagi itu juga Rina menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Yah, yang pasti bersiap menuju sekolahnya.
            Sekolah St. Merry Rose, sekolah yang khusus menampung anak-anak yang berbakat setelah diseleksi dengan ketat. Dan dia sendiri adalah salah satu yang terpilih untuk bersekolah di sana. Bukannya Rina membenci itu, hanya saja rasanya aneh saat terpisah dengan teman-temannya. Apalagi saat dia mengetahui jurusan yang tersedia untuknya adalah jurusan IPA. Rina yang merasa tidak bisa dibilang jenius tapi tidak bodoh-bodoh amat merasa ganjil. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah diterima, apalagi sekolah itu gratis, maka ya diambil saja kesempatan itu.
            “Ibu, aku berangkat dulu…” katanya dalam hati. Orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan pesawat terbang 5 tahun lalu. Ia sendiri selamat karena kebetulan dia tidak ikut. Padahal saat itu dia telah dipaksa sama ortunya untuk ikut. Yah, entah dibilang untung atau rugi, yang penting dia tetap hidup.
            Rina Camilla, umur 13 tahun, kelas 1 C di St. Merry. Anak yang terlihat biasa-biasa saja itu, memiliki sebuah rahasia. Rahasia yang jika diketahui umum akan menimbulkan masalah. Lah iya, walau otaknya nggak begitu jenius, namun dia sangat lihai dalam dunia komputer terutama urusan hacking. Tenang saja, dia tidak berniat untuk menghack perusahaan-perusahaan, kok. Dia hanya menggunakan keahliannya untuk membantu perusahaan yang benar-benar membutuhkan dan bukan untuk merusak.
            Baju sudah dipakai, tas dijinjing, headphone ditelinga, dan Rina pun siap. Segera ia melangkah keluar apartemen yang telah ia sewa dengan uang hasil kerjanya itu. Kerja legal kok, bukan kerja yang aneh-aneh. Udah deh, reader nggak usah sewot dulu. Nyari ide nih susah. Coba bayangin kalau reader tertjinta yang berada di posisi Mimin??
            Oke, lanjut cerita. Apartemen yang disewanya itu berada dekat dari sekolahnya. Kan rugi kalau keluar ongkos transportasi. Mana dia belum boleh bawa motor, lagi. Maklum, di daerah sekitar sana hukumnya super keras. Lebih baik diikuti saja deh.
            “Rina-chan~” terdengar suara dari balik punggung Rina. Ia terdiam sesaat, sebelum merogoh kantungnya yang berisi semprotan cabe rawit yang super pedas seperti sambalnya *BC extra pedas itu loh~
            “… Apa, Leon??” katanya dengan aura sadis yang mengalahkan shinigami a.ka dewa kematian (?) yang mau nyabut nyawa.
             “Aduuh… sakit ah, Rina-chan. Masa teman sekelas dikasih aura sesadis itu???” tanya anak cowok dengan rambut coklat pendek dan mata kuning keemasan yang dipanggil Leon oleh Rina sambil mendekatinya yang sudah memasang tampang super jutek.
            “Yaah, aku kan tak tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang pervert seperti kamu.” ucapan yang langsung membuat Leon jatuh terkapar ala anime dengan anehnya, dan Rina yang anime sweatdrop melihat keanehan Leon.
                “Udah deh, Leon. To the point aja. Apa yang kamu lakukan di sini??”
                “Hanya ingin mengajakmu berangkat bareng. Yah, seperti teman lah…”
           “Memangnya kau temanku??” jawab Rina yang sukses menancapkan panah beracun tepat ke hati Leon.
                “Kau jahat, Rina-chan!!! Aku kan hanya ingin kau aman-aman saja…”
            “… Bukannya kau yang paling tahu soal kemampuan bela diriku yang lebih dari cukup untuk menghajar para preman itu, ya???”
            “Tapi sebagai cewek kau harusnya lebih feminine, biarkan cowok saja yang mengurusi hal kotor seperti ini!!”
            “Tapi… yah, sudahlah. Lakukan saja sesukamu.” kata Rina sambil terus berjalan disusul Leon yang berada disampingnya.
            “Horee~ Jalan bareng Rina-chan~” seru Leon yang langsung disambut timpukan tas oleh Rina. ‘Beneran, kenapa aku sial banget sih hari ini,’ tanya Rina dalam hati.
            Yah, Leon adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui rahasia Rina. Bahkan bisa dibilang, dia adalah orang pertama yang mengetahui tentang kelebihan- ato kemampuan Rina itu.
            “Hei, Rina… Nanti malam, di tempat biasa.” usik Leon, tangannya melempar handphone yang dimilikinya ke udara
            “Iya, aku tahu. Siapa saja yang datang??” tanya Rina
            “Lumi bilang, ia, Nicholas, RedCross, dan Shadow datang.”
            “Lumi… Baiklah. Tunggu aku di tempat biasa.”
            “Roger, Vanryr”
            “Sudah kubilang jangan panggil aku dengan char name di dunia nyata!!!”
            “Hehe, sudah kebiasaan manggil kamu dengan nama itu~”
            “Berisik, Morgue.”
            “Dan kau sekarang memanggilku dengan nama charku?? Itu sangat tidak baik, Vanryr~”
“Yah, kau duluan yang memanggilku Vanryr.”
“... Iya deh, aku mengaku kalah.”
“Sudah seharusnya. Eh, sekolah dah dekat. Yuk cepetan, nanti keburu telat.” seru Rina sambil mulai berlari meninggalkan Leon.
“Eeh!! Tunggu aku, Rina-chan~”
-Skip Time, sampai waktu istirahat-
-Oleh : ???-
            “Hhh... akhirnya selesai juga~” sorak Rina dalam hati. Maklum, IPA bukan hal yang disenanginya. Yah, itu karena... Rina takut dan benci sama yang namanya serangga, hewan-hewan menjijikkan, dan juga terutama, karena ada praktikum setiap bulan yang melibatkan “membedah tubuh hewan-hewan tak berdosa”. Sungguh deh, kalau bisa, dia pasti kabur saat praktikum. Tapi sayangnya, ia tak bisa.
            “Rinacchi~ Yuk makan~” seru salah seorang temannya yang berambut coklat panjang dan diikat ponytail kepada Rina.
            “I-iya,” jawabnya gugup.
            “Hehe, tenang saja. Jika mereka mengganggumu lagi, akan kuhajar mereka sampai semua tulang mereka remuk tak bersisa.” sahut Leon dari belakang Rina seraya memeluknya.
            “Hyaaa!! Le-Leon!! Sudah kubilang jangan mengagetkanku!!!” ucap Rina seraya menepis tangan Leon.
            “Habisnya kau lucu sih, lagipula aturan ada untuk dilanggar~”
“LEON!!!”
“Maaf, maaf. Yuk, makan~” sahut Leon sambil beranjak pergi.
“Iya...” sahut Rina pelan. Dan entah kenapa, saat Ia mau beranjak dari bangkunya, terdengar suara yang cukup keras.
-Insert suara ledakan yang super epic menurut reader tercinta//plakk-
“A-apa itu, Leon??” Rina terdengar takut. Tangannya menggenggam jaket Leon dengan super erat.
“Ledakan??? What the hell!! Sebenarnya ada apa dengan sekolah ini??” teriak Leon dengan muka I Hate This.
“Hey, guys!! Lihat! I-itu...!!!” ucap seorang siswa yang berada di dekat jendela.
“Wha-what!!! Sejak kapan Nightmare bisa memasuki pelindung yang menyelimuti sekolah ini??!!” sahut Leon. Yah, semua siswa menyetujui pendapatnya, jadi kelas menjadi berisik.
“Ni-nightmare... kenapa???” sahut Rina takut. Ia merasakan tubuhnya menggigil ketakutan melihat Nightmare yang mencoba untuk memasuki gedung sekolah.
“Murid-murid yang berada di kelas harap segera menyelamatkan diri. Ikuti petunjuk dari guru.” Begitulah seruan dari speaker yang tertanam di kelas-kelas. Para guru sudah bersiap di luar, membantu mengevakuasi para siswa menjauh dari Nightmare. Tapi tetap saja kepanikan terjadi di dalam. Yah, terakhir kali Nightmare menyerang sekolah itu, sekitar 32 anak sukses menjadi korban dari kekejaman mereka.
“Rina!! Ayo cepat!!!” seru Leon sambil mengenggam tangan Rina.
“Aku tak bisa secepat itu...” keluh Rina seraya berhenti.
“Ayolah Rina. Aku tak mau kau tertangkap sekarang! Kau masih ada janji sama mereka, kan???”
“Aku... Tak... Sanggup... Lagi... Maaf ya, Leon.” Ucap Rina seraya melepaskan genggaman Leon. Leon sendiri berusaha meraih tangan kecil itu saat sesosok Nightmare menghancurkan dinding yang membuat mereka terpisah.
“RINA!!!” teriak Leon frustasi. Di depan Rina terlihat Nightmare yang bersiap untuk membunuhnya,
“Maaf...” sahut Rina pelan sebelum menutup matanya, bersiap untuk menerima serangan kematiannya.
-Hening-
“...” Rina membuka mata, bingung sama keheningan sesaat yang dialaminya. Di depannya terlihat seorang cewek dengan seragam St. Merry Rose yang entah kenapa terasa familier dimatanya.
“Kau tak apa-apa??” tanya gadis berambut perak itu kepadanya.
“I... Iya. Aku baik baik saja.”
“Kalau begitu, cepatlah pergi dari sini! Di sini berbahaya!”
“Ah... Iya!!!” seru Rina seraya berlari menjauh dari gadis itu.
Tunggu dulu, pikirnya. “Style anak itu, kenapa seperti Lumi??” tanyanya dalam hati.
“Itu karena aku Lumi, Vanryr-chan.” sahut Gadis berambut perak itu dari belakang.
“Hah!!! Kau Lumi??!!!”
“Iya.” jawabnya santai. “Lumi Eins Light River, atau lebih sering dikenal dan tercatat sebagai Ayanokouji Hikari telah hadir.”
“Ayanokouji... Hikari... Jangan-jangan kau salah satu dari Elite di St. Merry Rose?? Elite dengan julukan The Idol Princess of Starlight??”
“Iya. Walau sebenarnya aku masih punya julukan yang lain sih...”
“Heee... Yah, salam kenal, Lumi~”
“Salam kenal juga, Vanryr~”
“Hehehe...” keduanya tertawa pelan.
“Sudah. Ayo kita pergi, Rina-san,” ajak Hikari kepada Rina.
“Iya...” Mereka berdua pun segera pergi dari sekolah itu sambil mengalahkan Nightmare yang menghadang. Rina kagum melihat begitu banyaknya Nightmare yang dikalahkan oleh Hikari.
“Nee, Hikari... Mungkin ini tidak terlalu sopan, tapi mengapa kau masuk ke dalam Night Class?? Maksudku kan kau tahu tentang bagaimana susahnya Night Class, jadi aku kurang mengerti mengapa kau bisa masuk atau terjebak dalam kelas itu...”
“Ooh... Kalau itu alasannya agak rumit. Yah, kalau kita bisa keluar dari sini akan kuceritakan. Kalau kita bisa sih...”
“Kalau kita bisa???”
“Nightmare yang berada di Science Division benar-benar membludak... Agak susah untuk mengalahkan semua secepatnya. Tapi, Elemental 6 yang lainnya sedang berusaha kemari.”
“Elemental 6?? Apaan itu???”
“Elite terpilih dari Night Class yang menggunakan device khusus yang menggunakan elemen sebagai sumbernya. Selain dari 6 Elite itu, terdapat satu grup yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu dan ruang dimensi. Nah, grup itu bernama Midnight Traveler. Anggota dalam grup itu juga memiliki device elemental yang lebih kuat dari yang dimiliki oleh Elemental 6.”
“Midnight Traveler??”
“Midnight Traveler memang lebih jarang dikenal, tapi yang sudah melihat kemampuannya pasti tidak akan menyangkal bahwa mereka lebih kuat dibandingkan anggota Elemental 6. Yah, 2 orang dari mereka adalah kembaran dari aku dan Yami. Maksudku secara kekuatan.”
“Lalu anggotanya??”
“Terdiri dari Leadernya yaitu Water Knight, Fire Berserker, Lightning Emperor, Earth Protector, Ice Master dan juga seorang cewek yaitu Wind Traveler.”
“Ooohhh...”
“Ah, ini dia! Kau akan melihat kemampuan sebenarnya dari salah seorang Midnight Traveler,” seru Hikari sambil membuat sebuah barrier yang mengelilingi mereka berdua.
“Seorang anggota Midnight Traveler?” tanya Rina, mencari keberadaan anggota MT. Tanpa disadarinya, ada sesosok Nightmare yang siap menyerang mereka berdua.
“Awas!!!” seru seseorang yang membuat Rina kaget. Dia melihat sekelabat bayangan yang melompati barrier yang dibuat oleh Hikari dan menyerang Nightmare itu. Dengan satu serangan, Nightmare itu langsung hancur seketika.
“Kalian tak apa?” tanya gadis itu. Terlihat mantel coklat muda berbordir hijau muda yang dihubungkan dengan pin clover hijau. Di tangannya terdapat naginata (tombak dengan ujung berbentuk pisau) berwarna hijau muda-kuning yang berkilau.
“Trims atas pertolongannya, Windy-cchi~” sahut Hikari kepada gadis misterius tersebut.
“You’re welcome, Hikari -chan. Oh ya, ini siapa?” tanya gadis itu.
“Ah, dia temanku. Namanya Rina. Tapi kau tahu dia di Miracle World Online.”
“Jangan-jangan, kau Vanryr? Pantas saja rasanya seperti sudah mengenalmu tadi.” jawab si gadis itu.
“Eh, kenapa kau tahu namaku???” tanya Rina bingung.
“Angin hanyalah seorang teman sekaligus penunjuk jalan bagi seorang petualang di dunia yang kacau ini.”
“!!! Kau, Stella??”
“Yups. Usernameku Stella. Salam kenal, Rina-san~”
“Rina saja cukup. Oh ya, namamu siapa?” tanya Rina dengan polosnya. Segera saja si Stella diam ditempat dan Hikari ber-headbang ria ke tembok.
“??? Kenapa, Hikari??”
“Identitas Midnight Traveler adalah rahasia, bahkan bagi Elemental 6 sekalipun. Bukannya bermaksud untuk merahasiakannya sih...” jawab Hikari setelah puas memukul kepalanya di tembok.
“Ohh...” angguk Rina walau dia sendiri tidak mengerti. Tapi, mau gimana lagi... kan memang rahasia, pikirnya.
“Identitas seorang Midnight Traveler memang harus dirahasiakan. Karena pada dasarnya kami para Dreamer tidak berasal dari dimensi ini,” ucap Stella tanpa terdengar oleh kedua orang lainnya. (panggil saja dia Stella, nanti cerita menyusul.).
 “Ayo, kita pergi sebelum Nightmare mengejar!!” seru Stella sambil seraya berlari cepat, menghalau semua Nightmare yang mengejar mereka. Dan tentu saja, Rina dan Hikari mengikuti di belakangnya.
“... Stella, dia benar-benar kuat, ya?” tanya Rina pada Hikari. Tangannya menggenggam handphone kepunyaannya.
“Tentu saja. Dia anggota Midnight Traveler, jadi tentu saja dia kuat. Tapi... entah kenapa aku merasa dia agak berbeda... Apa mungkin karena mantel itu, ya?”
“Memangnya kenapa dengan mantelnya?”
“Mantel Midnight Traveler,” kata Hikari, “memiliki kemampuan untuk menyembunyikan penggunanya. Mantel itu juga dapat melindungi mereka dari berbagai serangan... Yah, memang wajar... mengingat mereka menemukan sendiri semua device dan berbagai magical item yang mereka miliki, sih.....”
“APA?? Mereka menemukan sendiri semua alat yang mereka gunakan??!!”
“Yup,” jawab Hikari. Dia menengok Stella selama beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya. “Ini cuma rumor, tapi aku mendengar kabar bahwa mereka pernah berkelana di berbagai dunia dalam berbagai dimensi... Tapi, toh cuman rumor.... Walau kalau itu benar.... mungkin aku akan minta mereka untuk mengajakku berkeliling dimensi.....”
“Ooh..... Iya juga, sih. Aku pasti juga akan meminta itu jika boleh......” gumam Rina.
“Ah, sudahlah. Ayo kita bergegas, Windy-cchi bisa sangat cepat jika dia mau...” ucap Hikari seraya berlari lebih cepat, Rina mengikuti di belakangnya.
- Skip Time... latar berganti menjadi halaman sekolah-
-Oleh : Windy si Wind Traveler-
Halaman sekolah, itulah yang terlihat di mata Rina saat mereka berlari. Dan memang tujuan mereka adalah halaman tersebut. Di sana sudah terlihat sebuah pelindung besar berwarna orange yang berisi banyak siswa sekolahnya. Terlihat seorang cowok berambut coklat dengan mantel seperti Windy a.ka Stella kecuali punya cowok itu berwarna orange dan bukannya hijau sedang berkonsentrasi dalam mempertahankan pelindung tersebut, ditemani dengan seorang cowok lain berambut pirang yang mengenakan mantel yang sama hanya saja berwarna coklat-biru. Cowok berambut pirang melihat Stella dan segera memanggilnya.
“Hei, Windy! Itukah siswa terakhir? Cepat kemari!!! Raizo sudah siap untuk mentransfer mereka!!” seru cowok itu.
“Aku tahu itu, Aqua-nii!! Susah tahu bertarung di lorong yang notabenenya sempit.... Untung aja aku sendirian.... Kalo banyak orang....” Stella merinding membayangkan apa yang akan terjadi jika saja banyak orang bertarung di lorong sekolah.... Jangan dibayangkan, pasti sesak tuh.
“Kalau gitu, cepet-AWAS!!!” seru cowok yang dipanggil Aqua-nii itu kepada ketiga orang yang melintasi halaman. Sontak saja ketiga orang itu menoleh ke angkasa. Dan, terlihat sebuah meteor besar yang akan jatuh menimpa mereka.
“Dang it!! Aqua-nii, bantu aku!!!” seru Stella seraya mengucapkan serangkaian mantra sambil mengambil posisi menghadap meteor itu. Rina dan Hikari tetap berlari menuju pelindung sementara Aqua berlari menuju Stella sambil merapalkan mantra dan mengeluarkan pedangnya.
“Ayo, Windy/Aqua-nii! Blizzard Dragon, Stream!!!” seru mereka berdua bersamaan, memunculkan sebuah naga berwarna turqouise yang bergerak naik menuju meteor tadi. Meteor tersebut langsung hancur seketika saat bersentuhan dengan naga tadi. Tak ada pecahan yang tersisa, hanya cahaya bagaikan kembang api saja yang tersisa.
“Kalian beruntung, dapat melihat pertunjukan tadi.... Mereka berdua jarang menggunakan mantra summon itu... apa mereka lagi bosan, ya???” ucap sang pemuda berambut coklat saat Rina dan Hikari telah memasuki pelindung buatannya.
“Jarang??? Apa maksudnya???” tanya Rina bingung.
“Mereka berdua sangat kuat. Yah, tak bisa dipungkiri.... mereka adalah reinkarnasi Adam dan Eve di antara Dreamer. Original Dreamer, begitu kami menyebutnya.” Jawab si cowok itu.
“Ooh....” ‘Walau aku tak sepenuhnya mengerti sih....’ pikir Rina.
“Oh ya, aku belum memperkenalkan diriku, ya??” tanya cowok itu. “Aku Daichi, salah seorang member Midnight Traveler. Salam kenal, Ayanokouji Hikari dan Rina Camilla,” ucap cowok itu sampai membuat Rina kaget.
“Ah, aku lupa memberitahukanmu.... Daichi adalah anggota OSIS seluruh jurusan, makanya dia hapal semua nama dan jurusan siswa yang ada di sini....” bisik Hikari. ‘Bilang dong dari tadi, aku kan jadi mau kena serangan jantung, nih!!!’ pikir Rina jengkel.
Sementara mereka berlindung di dalam pelindung, Stella dan Aqua sedang bahu membahu membantai Nightmare yang ada di halaman sekolah. Sangat banyak yang terbunuh dalam pembantaian tersebut, sampai semua siswa anime sweatdrop melihat banyaknya darah yang memenuhi setiap bagian dari halaman tersebut. Saat itulah, Rina melihat sesosok bayangan yang mengendap-endap, mau menyerang kedua Dreamer yang tak menyadari sosok itu dalam kericuhan pertempuran.
“Stella, di belakangmu!!!” seru Rina kencang, handphone yang dipegangnya tiba-tiba bersinar terang dan menyilaukan semua orang kecuali para Dreamer yang langsung mengenakan penutup mantel mereka.
Saat tersadar, Rina segera melihat handphone yang dipegangnya. Terdapat sebuah aplikasi baru yang terinstall di handphone tercintanya tersebut. Langsung saja ia mencoba aplikasi tersebut.
“Cyberia, log in. Summon Titania,” ucap Rina sambil mengaktifkan aplikasi tersebut. Tiba-tiba saja muncul seorang peri anggun dengan rambut pirang dan baju hijau.
“Hah.... ini apaan???” tanya Rina bingung. Tanpa disadarinya, sosok bayangan itu sudah berada di dekat Stella, bersiap mau menusuknya dengan pisau pendek yang berukir aneh.
“Stella!!! Titania, bantulah aku!!!” seru Rina keras. Titania langsung menyerang bayangan tersebut menggunakan serangan bertipe angin yang langsung melempar bayangan tersebut menjauh dari Stella.
“Eh??? Cyber Summoner???” ucap Hikari bingung sementara Rina memfokuskan perhatiannya kepada aplikasi yang ada di handphonenya tersebut.
“Titania, Piercing Shower,” seru Rina kepada Titania yang langsung menyerang bayangan itu. Bayangan itu langsung mati terkena serangan bertubi-tubi dari Titania.
“.... Untunglah....” ucap Rina sebelum dia pingsan, terlihat samar bayangan cowok yang menangkapnya sebelum dia tak sadarkan diri.
-Skip Time, waktu : ???-
-Oleh : Aqua & Daichi-
“Ini di???” kata pertama yang terucap oleh Rina saat dirinya tersadar di kamarnya. Di sekelilingnya terlihat Stella, Aqua, Daichi, Hikari, dan tentunya Leon yang duduk di sekeliling meja kecil di dalam ruangannya.
“Ah, Rina!!! Kau sudah sadar!!!” seru Leon seraya memeluk Rina, yang segera saja langsung dibalas dengan pukulan sayang(?) dari Rina yang masih setengah sadar itu.
“Berisik, dasar pervert,” ujar Rina jutek. Lalu, dia bertanya pada Hikari.
“Setelah aku pingsan, apa yang terjadi???”
“Umm....” Hkari melirik ke arah Stella yang menganggukkan kepalanya, walau terasa aura gelap segelap tinta jepang yang berasal dari Leon.
“Mari kita bilang jika seseorang yang sangat memperhatikanmu mengamuk dan membantai Nightmare yang tersisa... Omong-omong soal Nightmare.....”
“?? Kenapa, Hikari???” tanya Rina bingung.
“Umm.... ini,” ucap Hikari seraya memberikan sebuah surat kepada Rina. Rina pun langsung membacanya dan terdiam. Tertera di bagian bawah surat, sebuah kalimat.
“Maukah kau bergabung dalam Night Class?”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya setelah vakum berapa tahun.... Mimin berencana aka melanjutkan 4 Leaf Clover!!! Soalnya kan awalnya cerita putus.... nanti kalo stuck dulu baru nyendat//plakk
Sebelum Mimin gila.... RnR yaw~
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
November 4th, 2014
16.23 P.M
Admin, Log out

4 Leaf Clover : Cross Sniper

     "Piiip,..... Piiiiip,....." Suara weker membangunkanku dari tidur. Aku melihat sang weker yang terus berdering. Ternyata, jam sudah menunjukkan jam 06.00. Aku segera bersiap untuk berangkat sekolah. Aku bangun dengan  cepat dan segera menuju ke kamar mandi.
     Aku Strawberry C. Ruby. Aku anak night class 2 - A di Akademi Merry Rose. Banyak sekali anak yang menyeganiku. Tak lupa juga ada anak yang membenciku. Yah, bisa dimaklumi karena aku anak yang paling kuat di Jurusan Spesial. Yah, resikonya aku mendapat lebih banyak tugas daripada anak - anak lainnya. Sudahlah, kita selesaikan saja perkenalannya.
     Tak terasa sudah 2 tahun ku bersekolah di sana,.... Pikirku sambil mandi. Aku mempercepat mandiku dan segera berganti baju. Setelah itu, aku mengambil roti seraya memakannya sambil berlari pergi menuju sekolah. Tidak seperti jurusan lain, kami yang masuk ke Jurusan Spesial harus masuk ke asrama yang dipisah antara asrama putra dan putri. Karena itu, rata - rata kami saling mengenal satu sama lain dari seluruh kelas.
     "Hai, Strawberry. Yuk pergi." Sahut Adrian. Oh ya, Adrian adalah teman satu timku. "Iya,.... Awas atasmu." Seruku. "Eh,... atas???" Tanya Adrian. " AWAS!!!!!" Teriakku. Terlam,..... eh, bukan. Adrian menangkapku dengan timing yang pas. "Huh, hati - hati dong. Aku kira ada apa." Gerutu Adrian. "Sudahlah,... ayo berangkat." Seruku sambil berlari mendahului Adrian. " Oooiiii!!!! Jangan tinggalkan aku!!!" Seru Adrian.
     Sesampainya di sekolah, aku disambut dengan teman - temanku yang lain. "Hai Strawberry. Tumben sekolah." Seru Akane, salah satu temanku. "Aku nggak ada tugas hari ini. So, aku sekolah aja." Jawabku sambil ber-high five dengan teman - teman yang lain. "Syukur deh. Kayaknya hari ini pelajarannya bebas sih,...". " Masa??? Aku kok nggak diberitahu???" Tanyaku. "Bohong bohong,... aku cuman bercanda. Oh iya, boleh aku pinjam prmu???" Tanya Akane sambil tertawa. Aku mengambil buku tugasku dan menyerahkannya ke Akane. "Setelah istirahat aku kembalikan deh." Kata Akane. Bel sekolah berbunyi. Kami pun segera berlari menuju ke kelas.
     Saat isatirahat, Adrian dan Nicholas menuju ke arahku. Nicholas adalah teman satu timku yang lain. Kami bertiga menamai tim kami Crimson Ignis, yang berarti Api merah karena elemen kami yang berwarna merah api. Aku langsung saja kontan berdiri. Kami pergi ke atap, tempat pribadi kami yang khuisus disediakan sekolah. "Akhirnya aku bia bebas juga." Kataku seraya tertawa. "Yah, kecuali ada panggilan mendadak dari sekolah." Kata Adrian dan Nicholas bersamaan. Aku pun langsung cemberut. "Tuan putri cemberut nih,.... Jelek tuh wajahnya....." Goda Adrian. "Sudahlah, Strawberry. Biarin saja si Adrian. Yuk kita makan bekal saja." Ajak Nicholas yang mengingatkanku pada bekalku. "Loh, terus aku gimana???" Tanya Adrian kebingungan. "Gak usah makan,... Hahaha" Kataku dan Nicholas seraya tertawa jahil. Kami pun duduk dan membuka bekal kami.
     "Biiip,.... Biip,..." Terdengar suara pada lencana kami. "Eh, pada saat seperti ini???" Gerutuku saat terdengar suara itu. "Jangan menggerutu. Ayo berangkat saja." Kata Adrian kepadaku. "Iya - iya" Jawabku sambil cemberut. "Jangan cemberut dong. Jadi gak imut tuh wajahnya." Kata Adrian seraya mengelus - elus kepalaku. (-///w///-) Wajahku langsung memerah ketika Adrian mengelus - elus kepalaku. "Woooiiii!!! Ayo langsung berangkat." Seru Nicholas mengingatkan kami. "Iyaaaa!!!!" Sahutku sambil merapal sihir teleport.
     Sesampainya di lokasi, aku terhenyak. Aku melihat banyak monster yang menyerang Jurusan Seni. Tapi, aku harus bersikap cool, kataku dalam hati. "Saatnya beraksi, Cross Mirage." Kataku pada device buatanku sendiri. "All right, my master.". "Eeeehhh,....!!!! Siapa di atas???" Tanya anak - anak di bawah. Mereka langsung histeris melihatku di atas tiang listrik. "Akhirnya si Cross Sniper datang juga." Kata salah satu anak. Ku pandangi anak - anak di bawah sana. Aku terkejut melihat seorang anak yang kalau gak salah bernama Hoshino Kirarin. Anak itu menggunakan salah satu device legenda yang hanya terdapat 4 device saja, salah satunya adalah Cross Mirage kepunyaanku. "Eeeehhh,.....!!!! Apa yang kupikirkan??? Aku harus menyerang monster - monster yang ada di sekolah. "Cross Mirage, tolong berkan data mengenai jumlah monster yang ada di sekolah." Bisikku. "Okay, prediction about the monsters are all about 500 monsters.". "Uuum,... kalau gitu kupercepat saja. Meteor Shower, Fire!!!!!" Sahutku seraya memukul lingkaran sihir yang kubuat. Langsung beratus - ratus bola api jatuh menyerang para monster yang masih tersisa.
     "Fuuuh,.... akhirnya selesai juga. Aku pergi duluan ya." Sahutku pada Adrian dan Nicholas. "Kenapa???" Tanya Adrian. "Ada urusan yang harus kuselesaikan." Kujawab sesingkat - singkatnya. "Iya deh." Sahut Nicholas. Aku pergi menuju ke sekolah.
     Keesokannya, aku pergi ke rumah Kirarin. Kuselipkan surat di kotak surat. Sebuah takdir yang berubah untuknya. Akan kutunggu kehadiranmu, Star Dancer.
Bersambung

4 Leaf Clover : Star Dancer

     "Kirarin!!!! ayo bangun. Nanti kamu terlambat sekolah." Seruan Satsuki membangunkanku. "Uuuh... bentar lagi aku bangun." Jawab Kirarin yang langsung dibalas dengan cubitan di pipinya. "Kirarin, Satsuki, ayo cepat - cepat. Kalian gak mau telat kan." Teriakan Taiyou langsung menyadarkan Kirarin dan Satsuki. "Waduh, kualat nich!!! Ayo cepetan Kirarin!!!" . " Kami berangkat!!!!" Seru Kirarin, Satsuki, dan Taiyou bersamaan.
     Aku Hoshino Kirarin. Biasanya orang orang memanggilku Kirarin atau Kira.Aku bersama saudara - saudaraku yang bernama Satsuki dan Taiyou bersekolah di Akademi Merry Rose. Aku sangat suka menari, apalagi ngedance hip hop. Aku diam - diam sering ngedance di taman menggunakan nama Starlight. Ah, sudah dulu perkenalannya, nanti telat lagi ke sekolah.
     "Kirarin, ayo cepat. Dah mau bel nich!!!" Taiyou berteriak kepadaku. "Sialan!!!! Lewat jalan pintas dech...". "Emangnya ada?". "Ada dong. Bye." Seruku sambil melompati pagar. Aku langsung menyusuri jalan pintas, melewati gang - gang kecil menuju sekolahku. "Yay!!! Sampai!!!!" Teriakku setelah melewati pintu gerbang sekolah. "Hai Kirarin. Tumben gak telat." sapa temanku yang bernama Seira. "Aku kan dah hapal jalan pintas ke sekolah.". "Kalau gitu besok dan seterusnya gak akan telat kan???". "Iya dong.". Kami tertawa bersama. "Oh ya, kedua kakak kembarmu pada kemana?" Tanya Seira. "Umm,....... mereka masih lari ke sini...." Jawabku. "Oh gitu..... Ya udah. Yuk masuk kelas." Ajak Seira sambil menarik tanganku.
     Kami langsung masuk ke dalam kelas. Oh ya, Aku berada di kelas 2 - 1 Jurusan Seni. Seragam yang kami kenakan di sekolah ini mengikuti kelas dan jurusan kami. Jurusan yang terdapat di sekolah ini adalah Jurusan Seni, Olahraga, Bahasa, dan Jurusan yang paling terkenal yaitu Jurusan Spesial. Hanya anak - anak yang disponsori oleh sekolah saja yang bisa masuk ke jurusan itu. Kami para anak - anak reguler (gabungan dari Seni, Olahraga, dan Bahasa) biasanya memanggil kelas itu dengan sebutan night class, karena kelas itu ada pelajaran malamnya. Selain Jurusan Spesial, jurusan - jurusan lainnya disebut dengan day class, karena yah, tahu aja kalau kelas ini cuma ada waktu pelajaran pas siang saja. Semua anak day class pastinya mau sekali masuk ke night class, tapi yang bisa masuk itu kelihatannya anak - anak yang berbakat entah dalam hal apa.
     Ketika Seira membuka pintu kelas, kulihat sudah banyak anak yang berganti baju. Hari ini kami akan berolahraga. Tiba tiba, kaca kelas kami pecah, padahal tidak ada yang memecahkannya. Terdengar suara teriakan teman - temanku yang sudah ada di luar gedung. Kami yang masih ada di dalam kelas langsung berlari keluar menghampiri teman - temanku. Saat kami sampai, kulihat ada segerombol monster mendekati kami. "Gi,....gimana nich...... Aku gak bisa bergerak....". "Sama,..... Apa yang harus kita lakukan???". "Masa cuman diam di tempat??". "Gak papa sech, kan ada anak - anak night class. Jadi kita gak usah takut.". ".....". Para monster itu semakin mendekati kami.
     Tiba - tiba, terdengar suara letusan senjata api yang membuatku tersentak kaget. Ternyata anak - anak night class sudah sampai. Walaupun sudah sering kulihat, tetapi entah kenapa mereka selalu kelihatan keren. Rata - rata atau bahkan semua anak night class memiliki senjata yang dipergunakan untuk melawan monster - monster seperti yang sedang menyerang kami saat ini.
     "Kirarin!!!!" seru Taiyou dan Satsuki bersamaan sambil berlari kearahku. Tanpa disadari, ada 2 ekor monster yang menyerang mereka dari belakang. "Awaaaas!!!!!" Seruku sambil berlari ke arah mereka. Entah karena apa, aku bisa menyelamatkan mereka. "Kira, ko,.....kok kamu bisa teleportasi??????" Tanya Satsuki dan Taiyou bersamaan. "Mana kutahu. Aku cuma mau nyelamatin kalian koq." Jawabku sambil bermuka aneh. "Cross Mirage colt custom, set." Kata seseorang yang membuat kami kaget. "Siapa tuh????" Tanya Seira dari kejauhan. "Akhirnya dia datang juga. Sang Ace dari kelas 2 - A. Strawberry Crimson Ruby si Cross Sniper." Kata anak - anak Jurusan Spesial. "Eh, Strawberry C.R.??? Siapa tuh????" Tanya Trio Hoshino bebarengan. "Masa kalian gak tau sech??!!! Dia itu tuch ya anak paling disegani di Jurusan Spesial. Banyak anak yang mengaguminya, bahkan sampai ada fans clubnya loh..." Teriak Seira. "Oh, gitu. Jadi dia yang sering dibicarakan itu." Kata Taiyou sambil mengangguk - angguk.
     Strawberry yang sedang berdiri di tiang listrik berpikir. "Hmm,..... Cross Mirage, berikan aku data musuh." Katanya kepada senjatanya. "All right, my master." Jawab Cross Mirage sambil memunculkan layar berisi data musuh. "500 monster, ya." Pikir Strawberry. "Akan kupercepat saja. Cross Mirage, Meteor Shower!!!" Kata Strawberry seraya menembakkan pistolnya ke udara. Pelurunya yang besar langsung meledak dan menghujani kami. Anehnya, kami tidak apa  - apa sedangkan monster - monster yang menyerang kami musnah begitu saja. Itulah kekuatan Strawberry, yaitu mengendalikan senjata apa saja untuk menyerang musuh tanpa melukai temannya. Kekuatan yang sangat jarang sekali ada di dunia ini.
     Strawberry melompat turun dari tiang listrik seraya menghampiri Kirarin. "Hmm,..... Jadi kamu ya si Star Dancer itu." Katanya. "Eh, Star Dancer??? Apaan tuh???" Tanyaku. Sebelum aku mendapat jawabannya, dia sudah keburu pergi dulu. "Tunggu!!!!" Teriakku tapi dia tak berhenti. Apa maksudnya Star Dancer??? Aku berpikir keras tapi tak menemukan jawabannya. "Nantilah kupikirkan lagi," Pikirku sambil masuk ke kelas.
     Aku berpikir keras di sekolah, berusaha mengerti apa maksud kata Strawberry. Hingga pulang sekolah aku tak menemukan jawabannya. Di rumah, aku berganti baju. "Kira, ada surat untukmu. Kuselipkan di bawah pintumu." Seru Ibu di luar kamar. "Iya, Bu." Jawabku sambil melihat di bawah pintu. Kuambil suratnya dan kuperhatikan. "Kayaknya familiar aku sama lambang ini." Pikirku sambil melihat logo di belakang surat. Kubuka surat itu dan kubaca. Tertulis di dalamnya, aku dipindahkan ke Jurusan Spesial kelas 2 - A. Roda takdir yang berhenti mulai berputar, menunjukkan takdir yang terduga.

~Bersambung~

Kagamine Rin Len Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com